Selasa, 22 April 2014

Kisi- kisi soal Dasar Ilmu tanah
Dosen Benny Hidayat, SP., MP

Soal multiple choice- Soal multiple choice- Soal multiple choice- Soal multiple choice


  1. Konsep tanah
  2. Faktor- faktor pembentuk tanah
  3. Sifat fisik tanah ( Tekstur, struktur, konsistensi, kerapatan tanah permiabilitas, aerasi, warna tanah)
  4. Air Tanah ( Pergerakan air tanah dan hubungan dengan tanaman)
  5. Mineral tanah (jenis, pelapukan, komposisi mineral tanah)
  6. Kimia tanah ( pertukaran ion, jenis ion yng dapat dipertukarkan, pH tanah)
  7. Jenis organisme tanah (Makro-mikro), peran mikroorgnisme tanah sebagai perombak dan siklus hara)

SELAMAT BELAJAR- SELAMAT BERJUANG- SELAMAT SUKSES

Sabtu, 19 April 2014

1.       

    Kisi-kisi. Soal Pertanian Organik. Benny Hidayat, SP., MP
   
1. Green revolution melahirkan banyak hal , yaitu....

2.  Efek   Pemakaian pestisida sintetik memiliki :
   
3.  Sistem pertanian yang dapat memperbaiki  lahan yangterdegradasi karena mendekat    
      kepada system alamiah

4.  Contoh Prinsip pertanian organic

5. Pemanfaatan musuh alami pada pertanian organic 

6. Interaksi dua populasi yang dapat di gunakan sebagai pengendalian hayati adalah,

 7.Pemanfaatan pestisida nabati kurang popular di kalangan petani karena ....

8. Fungsi pestisida nabati adalah


9-  Kelompok tumbuhan yang menghasilkan pestisida nabati

Senin, 15 April 2013

Kisi Soal Pertanian Organik
Dosen Benny Hidayat, MP
Multiple Choice  Multiple Choice Multiple Choice Multiple Choice Multiple Choice 

1. Sejarah Pertanian oranik
2. Lembaga PO,PHT
3. Prinsip PO
4. Fungsi Pestisida Nabati
5. Kelebihan dan kelemahan Pest. nabati
6. Tumbuhan pestisida nabati

SELAMAT BELAJAR!!! KERJA MASING- MASING

Jumat, 19 Oktober 2012




KISI KISI UJIAN MIKROBIOLOGI PERTANIAN BAPAK BENNY HIDAYAT,SP., MP
SOAL MULTIPLE CHOICE- SOAL MULTIPLE CHOICE-SOAL MULTIPLE CHOICE

  1. JELASKAN PERBEDAAN SEL PROKARYOTIK DAN EUKARYOTIK ?
  2. JELASKAN DAN GAMBARKAN PEMBAGIAN MIKROBA BERDASARKAN KEBUTUHAN AKAN OKSIGEN
  3. HARA MAKRO-MIKRO
  4. JELASKAN PEMBAGIAN MIKROBA BERDASARKAN SUHU DAN TEKANAN OSMOSIS
  5. APA YANG TERJADI BILA SEL MASUK KEDALAM LARUTAN YANG HIPOTONIS DAN HYPERTONIS
  6. TERANGKAN INTERAKSI POSITIF DAN NEGATIF DARI POPULASI MIKROBA YANG HOMOGEN
  7. JELASKAN DAUR BIOGEOKIMIA CARBON DAN NITROGEN
  8. LINGKUNGAN PERTUMBUHAN BIOTIK DAN ABIOTIK
  9. PERTUMBUHAN MIKROBA
  10. ALAT UNTUK MENGUKUR PERTUMBUHAN MIKROBA

SOAL MULTIPLE CHOICE- SOAL MULTIPLE CHOICE-SOAL MULTIPLE CHOICE


SELAMAT BELAJAR/ TETAP SEMANGAT

Selasa, 05 Juni 2012


TUGAS PENGANTI UJIAN SEMESTER
MATA KULIAH FILSAFAT ILMU



OLEH



BENNY HIDAYAT
108104007









PROGRAM DOKTOR
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

PENELITIAN  MAGISTER YANG AKAN DI UPGRADE

PENGELOLAN HARA SPESIFIK LOKASI TERHADAP PADI SAWAH (Oriza sativa L. Muer) PADA INCEPTISOL BAH JAMBI DUA, TANAH JAWA, SIMALUNGUN SUMATERA UTARA.

OLEH
BENNY HIDAYAT

THESIS MAGISTER
PROGRAM PASCASARJANA USU
SEMINAR TANGGAL 31 DESEMBER 2004


           

PENDAHULUAN

            Intensifikasi pertanian telah dilakukan dalam memacu peningkatan produksi, salah satunya dengan pemanfaatan pupuk. Rekomendasi pemupukan yang bersifat  umum, statis dan tidak efisien dalam jangka waktu lama saat program intensifikasi petanian diterapkan mengakibatkan adanya ketidakseimbangan hara dalam tanah karena pupuk yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman. Berdasarkan hasil penelitian Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat menunjukkan bahwa sebagian besar lahan sawah intensifikasi di Jawa, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan  dan Pulau Lombok sudah tidak respon terhadap pempukan P dan K (Setyorini dkk., 1995), dan pencabutan subsidi pupuk menyebabkan peningkatan harga pupuk menjadikan biaya lebih tinggi dari produksi yang dihasilkan.
Melalui berbagai penelitian yang dilakukan oleh IRRI  bekerjasama dengan beberapa peneliti di lingkup Asia telah menghasilkan formula baru untuk menghitung kebutuhan pupuk pada tanaman padi secara spesifik lokasi (Site Spesific Nutrient Management =SSNM). Metode yang digunakan adalah ; untuk hara Nitrogen dengan Bagan Warna Daun (BWD) dan  metode Petak omisi untuk hara Fosfor dan Kalium.
Bagan Warna Daun (BWD) adalah indeks warna daun padi yang secara tidak langsung mencerminkan kandungan klorofil di daun, dengan BWD ini petani dapat mengetahui kapan dan berapa pupuk yang harus diberikan sesuai dengan nilai indeks yang dihasilkan. Petak omisi adalah suatu tehnik rekomendasi dengan cara mengetahui kemampuan lahan untuk mensuplai hara yang dibutuhkan tanaman tanpa input yang diberikan.
Penelitian yang  dilakukan oleh BPTP Sumut tahun 2003 di Simalungun, dengan menggunakan BWD sebagai Pengelolaan Hara N spesifik Lokasi, P dan K dengan rekomendasi umum menunjukkan hasil yang produksi yang lebih tinggi dibandingkan tanpa penggunan BWD (Helmi, 2003).  Untuk itu diperlukan penelitian lanjutan  untuk hara P dan K spesifik lokasi, karena dosis P dan K yang digunakan masih rekomendasi umum.
Tujuan Penelitian ; untuk menguji metode petak omisi dan pengelolaan hara spesifik lokasi dengan cara petani  pada Inceptisol di desa Bah Jambi Dua, Kecamatan tanah Jawa, Kabupaten Simalungun Sumatera Utara sehingga dikeluarkan Rekomendasi Spesifik lokasi.

BAHAN DAN METODE
            Penelitian dilakukan bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara (BPTP-SU) di lahan petani beririgasi sebagai kooperator, menggunakan benih Ciherang pada tanah Inceptisol di desa Bah Jambi Dua, Kecamatan tanah jawa, Kabupaten Simalungun, dan analisa tanah dan hara dilakukan di Laboratorium BPTP–SU, penelitian dimulai awal bulan Mei hingga September 2004,
Metode Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok non faktorial dengan  9 perlakuan pilihan dan 5 ulangan.  Sebagai ulangan adalah 5 petani kooperator, perlakuannya adalah :Pemupukan NPK, PK(-N), NK(-P), NP(-K(Dosis Urea dengan BWD, SP-36 dan KCl 100 kg/ha), Cara Petani FP1( sistem tegel, pemupukan rekomendasi umum)dan FP2( Dosis N dengan BWD, P,K rekomendasi umum, dengan  sistem tanam Legowo). Pengelolaan Hara Spesifik Lokasi(PHSL); PHSL1 (Target 6 ton/ha),PHSL2 (Target 7 ton/ha), PHSL 3 (Target 8 ton/ha) dengan sistem tanam Legowo.
Tabel  1.  Takaran pupuk per perlakuan (kg/ha) dan waktu pemberiannya pada petakan Omision Plot.

Perlakuan
Pemberian ke – 1
(10 – 14 HST)
Pemberian ke – 2
(25 – 35 HST)
Pemberian ke – 3
(40 – 50 HST)
Urea
SP -36
KCl
Urea2
SP -36
KCl
Urea2
SP -36
KCl
NPK
50
100
50
100
0
0
100
0
50
-N (PK)
0
100
50
0
0
0
0
0
50
-P (NK)
50
0
50
100
0
0
100
0
50
-K (NP)
50
100
0
100
0
0
100
0
0


Tabel  2.  Takaran pupuk pada masing-masing petani kooperator untuk uji verifikasi hasil Omision Plot dan target hasil yang ingin dicapai.
NO
Petani
Hsl1
NK
t/ha
Hsl
NP
t/ha
Target Hasil 6 t/ha
Target Hasil 7 t/ha
Target Hasil 8 t/ha
Urea2
Kg/ha
SP36
Kg/ha
KCl
Kg/ha
Urea
Kg/ha
SP36
Kg/ha
KCl
Kg/ha
Urea
Kg/ha
SP36
Kg/ha
KCl
Kg/ha
1
Jarni
5,9
5,7
250
60
100
250
80
150
227.8
125
200
2
Narib
7,7
7,0
250
0
0
250
70
125
250
100
175
3
Subur
6,3
6,0
250
60
100
250
80
150
227.8
125
200
4
Edy
6,8
7,1
250
0
0
250
70
125
250
100
175
5
Ateng
7,0
6,6
250
0
0
250
70
125
250
100
175
Tabel.  3 .  Takaran Pupuk P2O5 dan K2O menurut hasil yang ingin dicapai dan kemampuan lahan menyediakan hara P dan K (IRRI, 2000)

Hasil Petak tanpa
P dan K (ton/ha)
Target hasil (ton/ha)

4
5
6
7
8

Takaran P2O5/K2O (kg/ha)

3
4
5
6
7
8
18/45
36/75
54/105


14/30
22/60
36/90
54/120


18/45
25/75
36/105
54/135


22/60
29/90
45/120



26/75
36/105




30/90
1 = Hasil dalam gabah kering giling (BPTP SU, 2003)
2 = Hasil pembacaan BWD




Variable yang Diamati :Tinggi tanaman saat panen, Jumlah anakan produktif, Jumlah jumlah malai/rumpun, Jumlah gabah isi/rumpun, Jumlah gabah hampa/rumpun, Bobot 1000 butir (gr), Efisiensi Agronomis (%), Rasio Profitabilitas, Kadar Hara Tanaman. N, P, K (%),Pengujian menggunakan Uji F untuk pengaruh Global dan Uji Kontras untuk pengaruh  Parsial




Sumber
Keragaman

VARIABLE YANG DIAMATI


Tinggi
Tanm
J.Anak
.Prod
Jmh
Malai
J.Gbh
Hampa
J.Gbh
Isi
Berat
1000
K.H
N- Dn
K.H
P- Dn
K.H
K-Dn
Efnsi
Agr.N
Efnsi
Agr.P
Efnsi
Agr.K
Rasio
 Profit
Prod
GKG

Kelompok
*
**
tn
*
tn
tn
tn
tn
tn
**
**
tn
tn 
tn

Perlakuan
**
**
tn
tn
tn
tn
tn
*
**
**
**
**
**
**

Kontras

NPK vs NP
tn
tn
tn
tn
tn
tn
tn
tn
tn
-
-
-
 -
tn

NPK vs NK
tn
**
tn
tn
tn
tn
tn
tn
tn
-
-
-
 -
tn

NPK vs PK
**
**
*
tn
*
**
tn
*
tn
-
-
-
 -
**

FP vs PHSL
tn
tn
tn
tn
tn
tn
tn
*
*
tn
**
tn
**
tn

FP1 vs FP2
tn
tn
tn
tn
tn
tn
tn
tn
**
tn
tn
tn
tn
tn

FP1 vs PHSL1
tn
tn
tn
tn
tn
tn
tn
*
**
tn
**
*
**
tn

FP1 vs PHSL2
tn
tn
tn
tn
tn
tn
tn
tn
*
tn
tn
tn
tn
tn

FP1 vs PHSL3
tn
tn
tn
tn
tn
tn
tn
tn
tn
*
tn
tn
tn
*

FP2 vs PHSL1
tn
tn
tn
tn
tn
tn
tn
*
*
tn
**
tn
**
tn

FP2 vs PHSL2
tn
tn
tn
tn
tn
tn
tn
tn
*
tn
tn
tn
tn
tn

FP2 vs PHSL3
tn
tn
tn
tn
tn
tn
tn
tn
tn
*
tn
tn
tn
tn

Galat                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             
17.25
2.78
5.66
18595.39
412812.96
2.76
0.08

0.02
1.67
6.55
10.38
0.50
0.0000045
4219.08

KK (%)
4.02
13.41
11.97
21.24
14.56
6.06
10.62
23.69
4.57
34.42
56.89
78.17
17.5
7.86

   Hasil Analisis  Sidik Ragam Setiap Variable  yang diamati pada Kajian Omison Plot dan Pengelolaan Hara 
                                 Spesifik Lokasi di Desa   Bah Jambi dua, Kec. Tanah, Jawa Kab. Simalungun Sumatera Utara
HASIL DAN PEMBAHASAN





Pembahasan  Penelitian


I. Omision Plot
            Hasil Penelitian menunjukkan bahwa perlakuan petak omisi N (Omission plot)  menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata hingga sangat nyata dibandingkan dengan pemupukan lengkap pada seluruh variable kecuali jumlah gabah hampa, ini menunjukkan bahwa tanaman kekurangan N karena kemampuan lingkungan mensuplai hara N rendah (Low Indegenous N Supply) dan akhirnya sangat nyata mengurangi produksi. Pada Petak omisi P atau K, tidak menunjukkan pengaruh berbeda nyata kecuali pada variable jumlah anakan pada petak omisi P. Ini menunjukan bahwa tanah dan lingkungan  cukup mampu mensuplai hara ini. Berdasarkan metode Dobermann dan Fairhurst, 2000, Besar nilai nilai suplai P dari lingungan(Indegenous P Supply) dapat dihitung sebesar 14.86 kg/ha dan K sebesar 85.80 kg/ha.
Manfaat Pengunaan Petak Omisi (Omision Plot)
            Petak omisi adalah petak yang dikurangi satu unsur yang dianggap sebagai faktor pembatas sedangkan unsur lain diupayakan dalam keadaan cukup. Dengan data produksi kita akan mengetahui :
  1. Kebutuhan tanaman akan hara tersebut
  2. Kemampuan lingkungan dalam mensuplai hara
  3. Berapa banyak yang harus ditambahkan
Dari uraian petak omisi diatas dapat kita lihat bahwa pemberian pupuk tanpa N dapat mengurangi produksi secara nyata dibandingkan tanpa pemberian P dan K, ini suatu petunjuk sederhana bahwa tanaman memerlukan unsur hara Nitrogen (urea) lebih banyak dari P atau K.
Metode petak omisi memudahkan petani secara sederhana untuk memberikan rekomendasi pemupukan untuk lahannya sendiri (self recommender) sehingga petani hanya memberikan pupuk yang diperlukan oleh tanaman dan dapat meminimalisasi pengeluaran sehingga meningkatkan keuntungan dan kesejahteraan petani.
Pemberian pupuk yang tidak dibutuhkan atau melebihi dari kebutuhan tanaman menyebabkan tejadinya pelandaian  produksi karena input yang diberikan tidak lagi meningkatkan produksi, sehingga merugikan petani dan menrunkan kesejahteraan petani disisi lain terjadinya kerusakan lahan karena penimbunan hara.
Rekomdasi hara N telah digunakan Bagan Warna Daun (BWD), karena dengan pemakaiannya kita dapat mengetahui berapa dan kapan kita harus memupuk sehingga  mencegah pemakaian pupuk N yang berlebihan karena selain merugikan petani juga dapat mengakibatkan penurunan kualitas lahan.
Kelebihan Pengelolaan Hara Spesifik Lokasi (PHSL) dibandingkan Cara Petani (PF)
Dari table di atas  dapat di lihat bahwa pengelolaan hara spesifik lokasi tidak berpengaruh nyata bila dibandingkan dengan cara petani pada variable-variable agronomi seperti tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah malai, jumlah gabah hampa, jumlah gabah isi, dan berat berat 1000 butir, tetapi berpengaruh nyata pada variable ekonomi seperti pada efisiensi agronomi N, P dan K serta rasio profitabilitas.
Perlakuan spesifik lokasi yang terbaik adalah pada PHSL 1 yaitu target 6 ton/ha, dengan pemupukan yang minimum tetapi menghasilkan hasil yang cukup tinggi sehingga mengurangi input dan meningkatkan ratio profitabilitas, sedangkan pda PHSL 2 dan 3 (target hasil 7 dan 8 ton/ha) peningkat hasil gabah kering giling diikuti dengan peningkatan input seperti pemupukan KCl pada PHSL 3 hingga 200 kg KCl/ ha (Lampiran 24), dua kali lipat cara petani mengurangi nilai keuntungan dan tidak efisien. Dengan mengikuti tujuan usaha pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan petani maka target 5 atau 6 ton bagi petani sangat sesuai karena dengan meminimalkan pengeluaran dalam hal pemupukan sehingga akan mampu meningkatkan kesehteraan petani.

Rekomendasi Pemupukan Spesifik Lokasi

            Rekomendasi pemupukan spesifik didasarkan kepada kemampuan lingkungan mensuplay hara, untuk N dengan menggunakan BWD sebagai Spesifik Lokasi, sedangkan untuk P dan K menggunakan Data omision Plot. Dari Data tersebut(lampiran 26) dapat kita lihat bahwa kemampuan tanah dan lingkungan mensuplay hara lebih tinggi dari kebutuhan tanaman untuk target di bawah 6 ton untuk hara K dan untuk P sedikit diberikan sebagai penjagaan(maintenance).



KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.     Metode Omison Plot (petak omisi) dapat digunakan untuk menduga kebutuhan hara tanaman padi pada Inceptisol di desa Bah Jambi Dua, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun
2.     Produksi Gabah Kering Giling (GKG) petak NPK berbeda sangat nyata  dengan produksi petak Omisi N dan tidak berbeda nyata pada petak omisi P dan K. ini berarti kebutuhan akan hara Nitrogen (N) cukup tinggi dibandingkan dengan P dan K.
3.     Perlakuan yang terbaik adalah Pengelolaan Hara Spesifik Lokasi yaitu pada perlakuan PHSL1
4.     Pada parameter Agronomi PF dan PHSL tidak menunjukkan hasil yang berbeda nyata, tetapi pada parameter ekonomi berbeda nyata terutama pada PHSL 1.
5.     Rekomendasi pemupukan  sementara yang spesifik lokasi di desa Bah Jambi Kec. Tanah Jawa Kab Simalungun adalah sebagai berikut :
SUPLAY
HARA
TARGET PRODUKSI (TON/HA)
6
7 
8
Dosis  (kg/ha)
P (P2O5)
7.31
20.08
42.87
K (K2O)
0
42.6
96.6

Saran
            Untuk menghasilkan rekomendasi yang akurat, diharap pada setiap musim tanam tetap dibuat satu petak lahan sebagai petak omisi
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   



Lampiran 26  Rekomendasi  Pengelolaan Hara Spesifik Lokasi (PHSL) (kg/ha)
a. Hara Fosfat (P)
Langkah I
Menduga kebutuhan P tanaman (UP)

Dari Gambar. Di bawah ini, dengan Hasil Maksimum 11 ton/ha, maka Kebutuhan P dapat dihitung (Dobermann and Fairhurst, 2000)

Target Hasil
P yang dibutuhkan






6 ton
15.5 kg






7 ton
17.5 kg






8 ton
20.5 kg













Langkah II
Menduga Suplay P dari Lingkungan Tanah (Estimate Indigenous P Supply) = IPS

IPS =
Gy (0P) x 2.3                                Gy(0P) = 6.46kg/ha (Lampiran 14)


6.46 x 2.3 =14.86 kg                  








Langkah III
Menduga Efisiensi Tanaman Menyerap P yang diberikan (Rep)

(REp) =
20-30%  kg/ha( Dobermann and Fairhurst, 2000)
Langkah IV
Menghitung Rekomendasi P =(P dibutuhkan- P asli Lingkungan tanah)/REp

Target
P yang dibutuhkan
P Recommendation
P2O5


6
15.5 kg
3.2 kg
7.31 kg


7
16.0 kg
8.8 kg
20.08 kg


8
20.5 kg
18.80 kg
42.87 kg










<> <>

Gambar 27. Hubungan antara Hasil maksimum, Target hasil  dan Kandungan P
                                   Pada Tanaman (Dobermann and Fairhurst, 2000)




b. Hara Kalium (K)
Langkah I
Menduga kebutuhan K tanaman (UK)





Dari Gambar. Di bawah ini, dengan Hasil Maksimum 11 ton/ha, maka Kebutuhan K dapat dihitung (Dobermann and Fairhurst, 2000)

Target Hasil
K yang dibutuhkan






6 ton
84 kg






7 ton
105 kg






8 ton
118 kg












1
Langkah II
Menduga Suplay K dari Lingkungan Tanah (Estimate Indigenous K Supply) = IKS

IKS =
Gy (0P) x 13                    Gy(0K) = 6.60 ton/ha ( Lampiran 14)


6.60 x 13 = 85.80 kg











Langkah III
Menduga Efisiensi Tanaman Menyerap K yang diberikan (Rek)

(REk) =
40-60%  kg/ha( Dobermann and Fairhurst, 2000)










Langkah IV
Menghitung Rekomendasi K =( K yang dibutuhkan- K asli Lingkungan)/REk)

Target
K demand
K recommendation (kg/ha)
K2O


6
84 kg
0 kg
0 kg


7
100 kg
35.5 kg
42.6 kg


8
118 kg
80.5kg
96.6 kg












 Gambar 28. Hubungan antara Hasil maksimum, Target hasil  dan Kandungan K
                                   Pada Tanaman (Dobermann and Fairhurst, 2000)